Hy readers, gue mau posting nih, ini sebenernya cerita yg dulu pernag due posting tapi setengah-setengah aja itu loh dan ini request dari sahabat gue, dan sumpah cerita ini belum selesai. ya udah happy reading aja ya :)
Clara
Melihat
awan-awan, itulah kebiasaan yang paling sering aku lakukan. Entah mengapa sejak
kecil, aku selalu tertarik dengan awan. Kalau ditanya siapa idolaku pasti aku akan
langsung berfikir bahwa awanlah idolaku, padahal awan hanyalah sebuah kumpulan titik-titik
air hujan yang berada di angkasa.
Aku
duduk di sebuah bangku di taman kota sambil melihat indahnya awan. Tiba-tiba
ada seseorang yang berkata “Hei, ayo,” ujar seorang anak sambil menarik
tanganku. Aku tersentak kaget dan menghadap kebelakang dan menoleh ke arah anak
tersebut, “Siapa kamu?” tanyaku heran
sambil berjalan, mengapa ia menarik tanganku
secara tiba-tiba. “Oh ma’af gue salah orang,” ujarnya.
Tak berselang beberapa saat anak tersebut meninggalkanku di tengah jalan di
taman. Kulihat sebuah kertas melayang ke arahku, kertas itu dari saku anak tersebut.
Kertas
tersebut jatuh tepat di kakiku, aku pun segera mengambilnya. Kuperhatikan kertas
tersebut. Kertas tersebut berisi tentang
pengadaan lomba fotografi di gedung Gajahmada. “Fotografi?” tanyaku. Aku sangat suka sekali fotografi, “Eh
tunggu dulu tapi temanya apa ya?” kataku dalam hati. Aku membaca sekali lagi
kertas tersebut, “Yah,
kenapa temannya harus tema
Bumi sih?” tanyaku dalam hati, sambil mendengus kesal.
Aku
ingin menanyakan sesuatu pada anak tersebut, tetapi dia sudah meninggalkan
jejak dari tempatnya. “Aduh, anak tadi juga udah pergi, padahal kan aku ingin tanya sesuatu tentang lomba ini,” kataku
sambil menunjuk ke kertas tersebut. Aku memutuskan untuk pergi ke gedung
Gajahyana yang letaknya tidak terlalu
jauh dari taman ini.
Tak, kusangka aku bertemu
anak yang menarik tanganku di gedung Gajahyana. “Kamu kan anak yang ada ditaman
itu kan?” tanya anak tersebut sambil menepuk pundakku. Refleks, aku pun memutar tubuhku dan berkata,
“Iya. Memangnya, kenapa?” tanyaku. “Sorry
ya, gue udah nabrak lo tadi,” ujarnya penuh arti. Baru pertama ini ada anak
laki-laki yang mau minta ma’af atas perbuatan yang dilakukannya kepadaku. “Oh ya, gue udah ma’afin lo
kok,” ujarku. “Kenalin nama gue Iqbaal
Ardian Pratama, panggil aja Iqbaal, nama lo siapa?”
tanya Iqbaal sambil menganyunkan tangannya
di udara.
Aku
ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan anak ini, entah apa yang aku fikirkan,
kemudian aku menjawab, “Kepo banget sih lu!” ujarku judes. Aku
baru menyadari sesuatu, kenapa aku jadi begini di dekat anak ini? Kenapa
biasanya didekat orang-orang di sekitarku, aku selalu bersikap ramah. Lalu
kenapa dengan anak ini? Ujarku dalam hati.
“Ayolah,”
ujarnya memaksaku untuk mengatakan siapa namaku. “Emangnya lo siapa?” tanyaku.
“Gue?” ujarnya sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya
sambil tersenyum kecut, Lalu di melanjutkan lagi ucapannya, “Gue
anak yang nyelenggarain lomba ini,” ujarnya sombong. Sombong.
Itulah kesan pertama yang kudapat setelah bertemu dengannya untuk kedua
kalinya.
“Lo, akan tahu nama gue
setelah pendaftaran ini kok,”
ujarku. “Oke fine, no problem ,”
ujarnya. Aku meninggalkan dia, menuju tempat pendaftaran peserta lomba . “Ada yang bisa saya
bantu dek?” tanya seorang
perempuan di meja resepsionis atau
entahlah. “Oh ya mbak, saya mau mendaftar untuk
lomba fotografi ini,” ujarku. “Oh iya
ini, silahkan isi pendafaran ini dan sertakan alamat dan no telepon,” ujarnya
ramah sambil meletakkan kertas pendaftaran di meja resepsionis
tersebut. “Oke,” ujarku sambil mengambil kertas
pendaftaran.
Aku
mengisi semua dengan pertanyaan dan
kupastikan semuanya benar. Setelah itu aku memberikan
kertas tersebut pada mbak tadi yang
kini ada di depanku. “Oh ya,
foto paling lambat dikumpulkan tanggal 12 Juli,” ujarnya. “12 Juli, tepatnya hari ulang tahunku,”
ujarku dalam hati. “Oke kalau tidak ada pertanyaan, saya permisi dulu,”
ujarnya.
Aku
kemudian meninggalkan gedung Gajahyana menuju rumah. “Arghh, 12 Juli, yap itu 1 bulan lagi, dan aku tidak tahu tempat
mana yang harus aku potret” ujarku menggerutu di
tengah keramaian kendaraan yang melintas. Aku memutuskan untuk mencari sebuah inspirasi, tetapi
aku tidak tahu harus pergi kemana. Aku melintasi sebuah gedung yang tidak ditempati,
aku mencoba memikirkan semuannya mulai dari tema lomba itu sampai foto-foto
yang akan aku potret. Aku menaiki anak tangga satu per satu, dan akhirnya
sekarang aku telah berada di balkon gedung tersebut.
Aku
melihat ada seorang anak laki-laki yang duduk di pinggir gedung tersebut dengan posisi duduk dan sepertinya akan terjatuh.
“Jangan, duduk disitu, nanti kamu jatuh”
kataku sambil berteriak. Anak
tersebut yang sedang menggunakan headset, tidak menghiraukan teriakannku. Aku berjalan perlahan-lahan menuju tempatnya. Aku
pun menepuk pundak anak tersebut. Ketika
menghentakan kakiku satu langkah, kakiku terpeleset. Kini posisiku
berada di ujung tanduk, apa aku harus mati sekarang, dan yang pasti akan
terjadi adalah aku terjatuh dari gedung ini yang memiliki ketinggian hampir 15
m. Aku harus terima apapun yang akan terjadi padaku nanti. Nanti.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menggenggam erat
tanganku. Dan hingga detik ini masih menggenggam
tanganku erat. “Tolongin gue,”
ujarku membentak anak tersebut. Anak tersebut kemudian melepaskan headsetnya dengan tangan kirinya
dan kemudian berkata, “Apa lo bilang?” tanyanya. “Tolongin gue,” ujarku
ketakutan. Aku memperhatikan wajahnya sepertinya aku pernah bertemu dengan dia.
“Yap
nggak salah lagi,
dia itu Iqbaal?”
ujarku dalam hati. Anak tersebut langsung menarik tanganku sampai di balkon gedung tersebut.
“Huft.. akhirnya,” ujarku. “Lo,
gak papa kan?” tanya anak tersebut. “Lo Iqbaal,
ya?” tanyaku sambil berdiri sambil menatap wajahnya.
“Iya gue Iqbaal, lo anak yang tadi kan?” tanyanya sambil mengikutiku berdiri.
“Iya,” ujarku. “Oh ya, makasih, ya”
ujarku sambil tersenyum.
“Iya, sama-sama,” dengan binar mata yang menyentuh.
“Gue,
pulang dulu udah sore, bye,” ujarku meninggalkan Iqbaal.
“Bye, jaga diri lo, baik-baik yak,” ujarnya penuh
perhatian. “Ok,” kataku menghadap kebelakang dan mengedipkan mata. Kenapa gue di deket dia jadi deg-degan gini
yak. Ah, gak mungkin gue suka dia. Gak mungkin.
Aku
menuruni tangga dengan hati-hati. Dan kemudian langsung pergi dari gedung
tersebut. Aku terus berjalan, ketika aku melihat ke belakang ada sekelompok
orang yang mengikutiku dari belakang. Berbaju
hitam dan mengerikan.
Aku
terus melangkah dengan cepat. Dentakan suara kaki yang mengikutiku mulai
terdengar jelas. Aku segera berlari sekencang mungkin menuju gang sempit, tapi
ada seseorang yang menarik tanganku menuju gang sempit di sebelah kiri gang ini.
“Ssttss.., Lo jangan berisik,” katanya. Dia mendekapku, dan ketika dekapannya
merenggang. Aku pun mulai menatap wajah yang ada di depanku.
Iqbaal
“Siapa
tadi nama cewek itu, ya?” ujarku bertanya-tanya dalam hati. “Gue, harus nyusul
dia, atau gak sama sekali,” ujarku berteriak hingga suaranya menggema di bangunan
tersebut. Aku segera menuruni tangga dan segera menuju trotoar. Aku mencari
jejak cewek yang aku temui tadi di taman, Gedung Gajahyana, dan beberapa detik
yang lalu.
Dan,
“Sial,”, Aku melihat cewek tadi di ikuti preman-preman berandalan yang dulu
pernah kutemui. Aku segera menuju gang sempit yang tidak terlalu jauh dari gang
yang dilewati cewek tadi. Dan aku segera menarik pergelangan tangan cewek
tadi. “Ssttss.., Lo jangan berisik,”
kataku sambil mendekap cewek tersebut.
“Eh,
sorry-sorry,” ujarku merenggangkan pelukan beberapa detik lalu. Ia menatapku, dengan
wajah yang ketakutan. “Udah-udah tenang, lo udah aman, selama gue masih
disini,” ujarku. Wajah cantik dihadapanku
tersenyum. Senyum yang manis. Aku
memastikan keadaan sudah aman. Dan benar
keadaan sudah aman.
Aku
dan cewek tadi segera keluar dari gang yang sempit tadi. “Itu dia, cewek cantik
tadi,” ujar salah satu berandalan. “Mana-mana,” ujar salah satu berandalan
satunya. “Gawat, ayo lari,” ujarku sambil menggenggam erat pergelangan tangan
cewek yang berada di sampingku. Entah apa
yang akan dipikirkannya sekarang. Yang pastinya aku harus melindunginya.
Menjaganya.
Clara
“Gawat,
ayo lari,” ujar Iqbaal sambil menggenggam erat pergelangan tanganku. “Iya,”
ujarku berlari sambil terpaku pada pergelangan tanganku dan pergelangan
tangannya. “Ayo, nanti kita, tertangkap,” ujarnya sambil menyuruhku berlari
dengan kencang. Setelah sampai di trotoar, preman tadi tak terlihat. “Bentar
ya, aku capek,” ujarku tak kuat lagi berlari dan terduduk. Deg. Dia memutarkan badannya dan berjongkok di depanku. “Lu, udah gak kuat lagi ya buat jalan, dasar
cewek.” ujarnya. Dia memutarkan tubuhnya. “Ayo naik, ke punggung gue.” ujarnya.
Iqbaal
“Bentar
ya, aku capek,” terdengar cewek di belakangku mengeluh. Aku memutarkan badanku
dan berjongkok di depannya. “Lu, udah
gak kuat lagi ya buat jalan, dasar cewek.” ujarku. Aku memutarkan tubuhku. “Ayo
naik, ke punggung gue.” Ujarku tanpa basa-basi. Tidak ada renspon. Aku segera melihat kearahnya. “Lu mau duduk di
sana sampai kapan, bentar lagi mau malem loh,” ujarku. “Ayo buruan naik,”
ujarku sekali lagi. “Tapi,” ujarnya. “Udah gak ada tapi-tapian, cepet naik atau
gue tinggal,” ujarku. Dia segera naik ke punggungku. Dan aku segera berdiri.
“Ternyata,
tubuh lu juga gak berat-berat amat ya,” ujarku. “Udah deh, jangan ngeledek,”
ujarnya tak mau kalah. “Oh ya, nama gue Clara Anastasya, panggil aja Clara,”
ujarnya. “Oh ternyata nama lu, Clara,” ujarku sambil tersenyum. “By the way soal pertemuan kita tadi di
taman, lu ngira gue ini siapa?” ujarnya penasaran. “Oh yang tadi, gue kira lu
pacar gue,” ujarku.
Clara
“Oh
yang tadi, gue kira lu pacar gue,” ujarnya padaku. Deg, entah mengapa ada rasa sakit yang menjalar di hati ini. “Ya,
gue kira lu itu pacar gue yang baru dateng dari Aussie, dan kita tadi janjian di taman. Dan ternyata gue salah
narik orang dan yang gue tarik itu lu,”. “Oh gitu,” ujarku. Dan setelah itu hening. “Tolong turunin
gue dong, tuh ada taksi” ujarku sambil menunjuk taksi yang ada di seberang
jalan.
Iqbaal
Dan setelah itu hening. Kenapa dia diem aja ya, apa dia
marah? Tapi kenapa dia harus marah, kan gue bukan siapa-siapa dia. “Tolong
turunin gue dong, tuh ada taksi” ujar Clara sambil menunjuk taksi yang ada di
seberang jalan. “Lu mau banget ya gue turunin dari punggung gue?” ujarku
menggodanya. “Ish, nyebelin tau gak,” ujar Clara. “Ya, ya gue turunin, jangan
marah dong,” ujarku sambil menurunkan dirinya dari punggungku.
“By the way, makasih atas bantuan lu.
Karena ini udah malem, gue pulang dulu,” ujar Clara sambil turun dari
punggungku. Dan dia melangkah menuju seberang jalan tanpa menghadap ke arahku.
“Oh ya nomor lu atau nomor pin BB lu berapa? Ujarku. “12796CRA” ujar Clara
tanpa menghadap lagi ke arahku. “Ok,” ujarku sambil mencatat nomor pin BBnya.
Clara
Aku
segera memasuki taksi yang ada di seberang jalan tadi. “Pak, Jl. Abimanyu no
5,” ujarku pada supir taksi tadi. “Iya, dek,” ujar Bapak tadi. Kenapa gue jadi gini sih, dia bukan
siapa-siapa gue dan pasti gak akan pernah jadi siapa-siapa gue. Catet itu Clara.
Aku
melihat pemandangan Kota Jakarta yang selalu ramai, entah pada siang hari ataupun malam hari. Tak
terasa kini sudah sampai di depan rumah. “Udah sampai dek,” ujar supir taksi
tadi. “Oh ya pak, ini uangnya,” ujarku sambil mengeluarkan uang lima puluh
ribuan di dalam tas kecilku. “Makasih Pak,” ujarku sambil membuka pintu taksi
dan berjalan menuju pagar rumah. Aku menekan bel pintu rumah.
Seorang
perempuan paruh baya tergopoh-gopoh membukakan pintu pagar, “Non, dari mana
saja?” tanya Bibi yang mengurus rumah dan sekaligus menjagaku kalau kedua
orangtuaku sedang melakukan bisnis di luar negeri. “Dari jalan-jalan aja Bi,”
ujarku kepada Bi Nina. “Yaudah bi, saya ke kamar dulu, mau bersih-bersih dulu,”
ujarku. “Iya non, soalnya Non bau kecut, hehehe..,” ujar Bi Nina dengan guyonan[1]
khasnya. “Ah Bi Nina, Tapi saya bau-bau gini tetep cantik kan, hehe,” ujarku
sambil membalas guyonan Bi Nina. “Yaudah Bi, saya ke
kamar dulu ya,” ujarku.
Aku
memasuki rumah menuju tangga. Tetapi ketika melewati ruang keluarga, ada
seseorang yang selama ini kurindukan tengah duduk di sofa dan membaca majalah.
“Joey,” ujarku kegirangan, aku segera duduk di sampingnya. “Hello, my sweety. Apa kabar nih,” ujar
Joey sambil mengacak-acak rambutku. Aku segera menepis tangannya karena telah
mengacak-acak rambutku. Joey adalah kakak kandungku yang tengah menempuh kuliah
di Aussie dan mengambil Jurusan
Kedokteran. “Lu jahat, balik ke Indo gak bilang-bilang,” ujarku
kesal.
“Lu
jelek kalau cemberut gitu dek, kakaknya pulang kok malah cemberut,” ujar Joey.
“Lagian sih, lu gak bilang-bilang Joey, gue kan bisa jemput lu di Bandara,”
ujarku setengah kesal. “Iya-iya, ma’af,” ujar Joey sambil mencium pipiku. “Ish,
apa-apaan sih Joey, gue udah besar,” kataku sambil mengusap-usap pipiku. “By the way, lu dari mana aja sih kok bau
asem gini,” ujar Joey. “Gue habis jalan-jalan,” ujarku. “Udah sana mandi dulu,
bau tau,” ujar Joey.
“Walaupun
bau gue tetep cantik tau,” ujarku berlari ke tangga menuju kamarku. “Iye-iye
dari pada lu marah lagi,” ujar Joey setengah berteriak.
Iqbaal
Setelah
sampai di rumahnya, Iqbaal langsung menuju kamarnya. Ia segera mengambil HP
Blackberry di meja belajarnya. “Yes, gue dapet nomer pin BBnya,” ujar Iqbaal
bersorak-ria. Dia lalu mengetikkan nomer pin BB Clara. “Semoga aja di Accept,”
ujar Iqbaal berharap. Ping. Suara Hp
Iqbaal berbunyi. “Yes, di accept,” ujar Iqbaal bersorak seperti memenangkan
pertandiangan Sepak Bola. “Ping,” ketik Iqbaal. “Iya, ada apa?” ketik Clara.
Iqbaal segera menjawabnya “Lagi apa?” tanya Iqbaal lagi. “Lagi nonton tv,”
ketik Clara. “Udah dulu ya, bye.”
Ujar Clara lagi. “Loh, kok dia off sih,” ujar Iqbaal.
Clara
Ping, suara hp Clara berbunyi. Joey lalu mengambil hp adikknya yang berada di tas di
sebelahnya tersebut. Joey melihat isi hp adikknya. “Iqbaal, siapa itu?” ujar
Joey. “Hmm.. ini permintaan pertemanan, gue confirm aja deh,” ujar Joey lagi.
“Ping,” suara hp Clara berbunyi lagi. “Gue bales aja kali ya, hehehe”. “Iya, ada apa?” ketik Joey di hp Clara. Ping.
“Lagi apa?” tanya Iqbaal lagi. “Lagi nonton tv,” ketik Joey di hp Clara.
“Joey,
lu lagi apa di bawah?” ujar Clara berteriak. “Nih, gue lagi nonton tv,” ujar Joey.
Aku segera menuruni anak tangga menuju ruang keluarga. “Gue denger, hp gue tadi
bunyi, deh” ujarku sambil mengambil hp di tas kecil milikku. Dan menotak-atik
hpku.“Iya tadi bunyi tuh. Siapa Iqbaal, Ra?” tanya Joey. “Bukan siapa-siapa,
emang lu tau Iqbaal dari mana Joey,” ujarku penasaran.
“Dia
tadi ngeadd lu di BBM tuh, terus gue accept,” ujar Joey tak bersalah. “Kenapa
harus lu accept Joey,” ujarku sedikit kesal. “Iya, sorry-sorry,” ujar Joey. “Yaudah, gue mau ke kamar dulu. Gue gak
mood ngomong sama lu,” ujarku berlalu menuju kamar.
“Jangan
marah dong, gue turutin deh, semua permintaan lu,” ujar Joey. “Oke, gue terima.
Gue lagi pingin baju, sepatu, tas ama novel nih,” ujarku sambil terkikik. Biar
tau rasa tuh Joey. “Eh buset, banyak amat permintaan lu ra,” ujar Joey setengah
berteriak. “Ya, salah lu sendiri dan janji adalah hutang loh Joey, jadi harus
ditepati,” ujarku mengingatkan Joey agar tidak merubah keputusannya itu.
“Ya-ya, besok ke PIM yah, my sweety, inget
jangan ngaret” ujar Joey. “Siap, bos,” ujar Clara sambil memasuki kamarnya.
Iqbaal
“PING!”
ketik Iqbaal di BBnya yang dia arahkan untuk Clara. “Eh lu, ngapain ngechat?”
ketik Clara di seberang sana. Kenapa dia jadi judes ya?, apa gara-gara masalah
tadi. “Judes amat?” ketikku di BB.
“Masalah?” ujar Clara. “Yaudah deh Good Night <3” ketikku di BB.
Gut Night cantik semoga mimpi indah ya disana. Entah mengapa ada yang berbeda di dalam diri Clara, dan
Iqbaal menyukai itu, walaupun dengan pertemuan yang aneh -_-. Senyum yang mempesona dan mata yang indah. Iqbaal
segera menarik selimut dan berharap dapat memimpikan Clara.
Clara
“Yaudah deh Good Night <3” pesan dari Iqbaal masuk. Clara segera membaca
isi BBM tersebut. Apa maksudnya?
Pikiran itu terbesit di pikirannya. “Dia kan udah punya cewek ngapain ngasih
tanda ini,” ujar Clara sedikit kesal. Clara segera menarik selimut, berharap
dia tidak bangun kesiangan untuk pergi ke PIM bersama Joey.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar