Sabtu, 19 April 2014

-Cloud-

Hy readers, gue mau posting nih, ini sebenernya cerita yg dulu pernag due posting tapi setengah-setengah aja itu loh dan ini request dari sahabat gue, dan sumpah cerita ini belum selesai. ya udah happy reading aja ya :)

Clara
Melihat awan-awan, itulah kebiasaan yang paling sering aku lakukan. Entah mengapa sejak kecil,  aku selalu tertarik dengan awan.  Kalau ditanya siapa idolaku pasti aku akan langsung berfikir bahwa awanlah idolaku, padahal awan hanyalah sebuah kumpulan titik-titik air hujan yang berada di angkasa.
Aku duduk di sebuah bangku di taman kota sambil melihat indahnya awan. Tiba-tiba ada seseorang yang berkata “Hei, ayo,” ujar seorang anak sambil menarik tanganku. Aku tersentak kaget dan menghadap kebelakang dan menoleh ke arah anak tersebut, “Siapa kamu?” tanyaku  heran sambil berjalan, mengapa ia menarik tanganku secara tiba-tiba. “Oh ma’af gue salah orang,” ujarnya. Tak berselang beberapa saat anak tersebut meninggalkanku di tengah jalan di taman. Kulihat sebuah kertas melayang ke arahku, kertas itu dari saku anak tersebut.
Kertas tersebut jatuh tepat di kakiku, aku pun segera mengambilnya. Kuperhatikan kertas tersebut. Kertas tersebut berisi tentang  pengadaan lomba fotografi di gedung Gajahmada. “Fotografi?” tanyaku. Aku sangat suka sekali fotografi, “Eh tunggu dulu tapi temanya apa ya?” kataku dalam hati. Aku membaca sekali lagi kertas tersebut, “Yah, kenapa temannya harus tema Bumi sih?” tanyaku dalam hati, sambil mendengus kesal.
Aku ingin menanyakan sesuatu pada anak tersebut, tetapi dia sudah meninggalkan jejak dari tempatnya. “Aduh, anak tadi juga udah pergi, padahal kan aku ingin tanya sesuatu tentang lomba ini,” kataku sambil menunjuk ke kertas tersebut. Aku memutuskan untuk pergi ke gedung Gajahyana yang  letaknya tidak terlalu jauh dari taman ini.
Tak, kusangka aku bertemu anak yang menarik tanganku di gedung Gajahyana. “Kamu kan anak yang ada ditaman itu kan?”  tanya anak tersebut sambil menepuk pundakku. Refleks, aku pun memutar tubuhku dan berkata, “Iya. Memangnya, kenapa?” tanyaku. “Sorry ya, gue udah nabrak lo tadi,” ujarnya penuh arti. Baru pertama ini ada anak laki-laki yang mau minta ma’af atas perbuatan yang dilakukannya kepadaku. “Oh ya, gue udah ma’afin lo kok,” ujarku. “Kenalin nama gue Iqbaal Ardian Pratama, panggil aja Iqbaal, nama lo siapa?” tanya Iqbaal sambil menganyunkan tangannya di udara.
Aku ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan anak ini, entah apa yang aku fikirkan, kemudian aku menjawab,  “Kepo banget sih lu!” ujarku judes.  Aku baru menyadari sesuatu, kenapa aku jadi begini di dekat anak ini? Kenapa biasanya didekat orang-orang di sekitarku, aku selalu bersikap ramah. Lalu kenapa dengan anak ini? Ujarku dalam hati.
“Ayolah,” ujarnya memaksaku untuk mengatakan siapa namaku. “Emangnya lo siapa?” tanyaku. “Gue?” ujarnya sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya sambil tersenyum kecut, Lalu di melanjutkan lagi ucapannya, “Gue anak yang nyelenggarain lomba ini,” ujarnya sombong.  Sombong. Itulah kesan pertama yang kudapat setelah bertemu dengannya untuk kedua kalinya.
“Lo, akan tahu nama gue setelah pendaftaran ini kok,” ujarku. “Oke fine, no problem ,” ujarnya. Aku meninggalkan dia, menuju tempat  pendaftaran peserta lomba . “Ada yang bisa saya bantu dek?” tanya seorang perempuan di meja resepsionis atau entahlah. “Oh ya mbak, saya mau mendaftar untuk lomba fotografi ini,” ujarku.  “Oh iya ini, silahkan isi pendafaran ini dan sertakan alamat dan no telepon,” ujarnya ramah sambil meletakkan kertas pendaftaran di meja resepsionis tersebut. “Oke,” ujarku sambil mengambil kertas pendaftaran.
Aku mengisi semua dengan pertanyaan dan kupastikan semuanya benar. Setelah itu aku memberikan kertas tersebut pada mbak tadi yang kini ada di depanku. “Oh ya, foto paling lambat dikumpulkan tanggal 12 Juli,” ujarnya. “12 Juli, tepatnya hari ulang tahunku,” ujarku dalam hati. “Oke kalau tidak ada pertanyaan, saya permisi dulu,” ujarnya.
Aku kemudian meninggalkan gedung Gajahyana menuju rumah. “Arghh, 12 Juli, yap itu 1 bulan lagi, dan aku tidak tahu tempat mana yang harus aku potret” ujarku menggerutu di tengah keramaian kendaraan yang melintas. Aku memutuskan untuk mencari sebuah inspirasi, tetapi aku tidak tahu harus pergi kemana. Aku melintasi sebuah gedung yang tidak ditempati, aku mencoba memikirkan semuannya mulai dari tema lomba itu sampai foto-foto yang akan aku potret. Aku menaiki anak tangga satu per satu, dan akhirnya sekarang aku telah berada di balkon gedung tersebut.
Aku melihat ada seorang anak laki-laki yang duduk di pinggir gedung tersebut dengan posisi duduk dan sepertinya akan terjatuh. “Jangan, duduk disitu, nanti kamu jatuhkataku sambil berteriak. Anak tersebut yang sedang menggunakan headset, tidak menghiraukan teriakannku. Aku berjalan perlahan-lahan menuju tempatnya. Aku pun menepuk pundak anak tersebut. Ketika menghentakan kakiku satu langkah, kakiku terpeleset. Kini posisiku  berada di ujung tanduk, apa aku harus mati sekarang, dan yang pasti akan terjadi adalah aku terjatuh dari gedung ini yang memiliki ketinggian hampir 15 m. Aku harus terima apapun yang akan terjadi padaku nanti. Nanti.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menggenggam erat tanganku. Dan hingga detik ini masih menggenggam tanganku erat. “Tolongin gue,” ujarku membentak anak tersebut. Anak tersebut kemudian melepaskan headsetnya dengan tangan kirinya dan kemudian berkata, “Apa lo bilang?” tanyanya. “Tolongin gue,” ujarku ketakutan. Aku memperhatikan wajahnya sepertinya aku pernah bertemu dengan dia.
“Yap nggak salah lagi, dia itu Iqbaal?” ujarku dalam hati. Anak tersebut langsung menarik tanganku sampai di balkon gedung tersebut. “Huft.. akhirnya,” ujarku. “Lo, gak papa kan?” tanya anak tersebut. “Lo Iqbaal, ya?” tanyaku sambil berdiri sambil menatap wajahnya. “Iya gue Iqbaal, lo anak yang tadi kan?” tanyanya sambil mengikutiku berdiri. “Iya,” ujarku. “Oh ya, makasih, yaujarku sambil tersenyum. “Iya, sama-sama,” dengan binar mata yang menyentuh.
“Gue, pulang dulu udah sore, bye,” ujarku meninggalkan Iqbaal. “Bye, jaga diri lo, baik-baik yak,” ujarnya penuh perhatian. “Ok,” kataku menghadap kebelakang dan mengedipkan mata. Kenapa gue di deket dia jadi deg-degan gini yak. Ah, gak mungkin gue suka dia. Gak mungkin.
Aku menuruni tangga dengan hati-hati. Dan kemudian langsung pergi dari gedung tersebut. Aku terus berjalan, ketika aku melihat ke belakang ada sekelompok orang yang mengikutiku dari belakang. Berbaju hitam dan mengerikan.
Aku terus melangkah dengan cepat. Dentakan suara kaki yang mengikutiku mulai terdengar jelas. Aku segera berlari sekencang mungkin menuju gang sempit, tapi ada seseorang yang menarik tanganku menuju gang sempit di sebelah kiri gang ini. “Ssttss.., Lo jangan berisik,” katanya. Dia mendekapku, dan ketika dekapannya merenggang. Aku pun mulai menatap wajah yang ada di depanku.
Iqbaal
“Siapa tadi nama cewek itu, ya?” ujarku bertanya-tanya dalam hati. “Gue, harus nyusul dia, atau gak sama sekali,” ujarku berteriak hingga suaranya menggema di bangunan tersebut. Aku segera menuruni tangga dan segera menuju trotoar. Aku mencari jejak cewek yang aku temui tadi di taman, Gedung Gajahyana, dan beberapa detik yang lalu.
Dan, “Sial,”, Aku melihat cewek tadi di ikuti preman-preman berandalan yang dulu pernah kutemui. Aku segera menuju gang sempit yang tidak terlalu jauh dari gang yang dilewati cewek tadi. Dan aku segera menarik pergelangan tangan cewek tadi.  “Ssttss.., Lo jangan berisik,” kataku sambil mendekap cewek tersebut.
“Eh, sorry-sorry,” ujarku merenggangkan pelukan beberapa detik lalu. Ia menatapku,  dengan wajah yang ketakutan. “Udah-udah tenang, lo udah aman, selama gue masih disini,” ujarku. Wajah cantik dihadapanku tersenyum. Senyum yang manis. Aku memastikan keadaan sudah aman.  Dan benar keadaan sudah aman.
Aku dan cewek tadi segera keluar dari gang yang sempit tadi. “Itu dia, cewek cantik tadi,” ujar salah satu berandalan. “Mana-mana,” ujar salah satu berandalan satunya. “Gawat, ayo lari,” ujarku sambil menggenggam erat pergelangan tangan cewek yang berada di sampingku. Entah apa yang akan dipikirkannya sekarang. Yang pastinya aku harus melindunginya. Menjaganya.
Clara
“Gawat, ayo lari,” ujar Iqbaal sambil menggenggam erat pergelangan tanganku. “Iya,” ujarku berlari sambil terpaku pada pergelangan tanganku dan pergelangan tangannya. “Ayo, nanti kita, tertangkap,” ujarnya sambil menyuruhku berlari dengan kencang. Setelah sampai di trotoar, preman tadi tak terlihat. “Bentar ya, aku capek,” ujarku tak kuat lagi berlari dan terduduk. Deg. Dia memutarkan badannya dan berjongkok di depanku.  “Lu, udah gak kuat lagi ya buat jalan, dasar cewek.” ujarnya. Dia memutarkan tubuhnya. “Ayo naik, ke punggung gue.” ujarnya.
Iqbaal
“Bentar ya, aku capek,” terdengar cewek di belakangku mengeluh. Aku memutarkan badanku dan berjongkok di depannya.  “Lu, udah gak kuat lagi ya buat jalan, dasar cewek.” ujarku. Aku memutarkan tubuhku. “Ayo naik, ke punggung gue.” Ujarku tanpa basa-basi. Tidak ada renspon. Aku segera melihat kearahnya. “Lu mau duduk di sana sampai kapan, bentar lagi mau malem loh,” ujarku. “Ayo buruan naik,” ujarku sekali lagi. “Tapi,” ujarnya. “Udah gak ada tapi-tapian, cepet naik atau gue tinggal,” ujarku. Dia segera naik ke punggungku. Dan aku segera berdiri.
“Ternyata, tubuh lu juga gak berat-berat amat ya,” ujarku. “Udah deh, jangan ngeledek,” ujarnya tak mau kalah. “Oh ya, nama gue Clara Anastasya, panggil aja Clara,” ujarnya. “Oh ternyata nama lu, Clara,” ujarku sambil tersenyum. “By the way soal pertemuan kita tadi di taman, lu ngira gue ini siapa?” ujarnya penasaran. “Oh yang tadi, gue kira lu pacar gue,” ujarku.
Clara
“Oh yang tadi, gue kira lu pacar gue,” ujarnya padaku. Deg, entah mengapa ada rasa sakit yang menjalar di hati ini. “Ya, gue kira lu itu pacar gue yang baru dateng dari Aussie, dan kita tadi janjian di taman. Dan ternyata gue salah narik orang dan yang gue tarik itu lu,”. “Oh gitu,” ujarku. Dan setelah itu hening. “Tolong turunin gue dong, tuh ada taksi” ujarku sambil menunjuk taksi yang ada di seberang jalan.
Iqbaal
Dan setelah itu hening. Kenapa dia diem aja ya, apa dia marah? Tapi kenapa dia harus marah, kan gue bukan siapa-siapa dia. “Tolong turunin gue dong, tuh ada taksi” ujar Clara sambil menunjuk taksi yang ada di seberang jalan. “Lu mau banget ya gue turunin dari punggung gue?” ujarku menggodanya. “Ish, nyebelin tau gak,” ujar Clara. “Ya, ya gue turunin, jangan marah dong,” ujarku sambil menurunkan dirinya dari punggungku.
By the way, makasih atas bantuan lu. Karena ini udah malem, gue pulang dulu,” ujar Clara sambil turun dari punggungku. Dan dia melangkah menuju seberang jalan tanpa menghadap ke arahku. “Oh ya nomor lu atau nomor pin BB lu berapa? Ujarku. “12796CRA” ujar Clara tanpa menghadap lagi ke arahku. “Ok,” ujarku sambil mencatat nomor pin BBnya.
 Clara
Aku segera memasuki taksi yang ada di seberang jalan tadi. “Pak, Jl. Abimanyu no 5,” ujarku pada supir taksi tadi. “Iya, dek,” ujar Bapak tadi. Kenapa gue jadi gini sih, dia bukan siapa-siapa gue dan pasti gak akan pernah jadi siapa-siapa gue. Catet itu Clara.
Aku melihat pemandangan Kota Jakarta yang selalu ramai,  entah pada siang hari ataupun malam hari. Tak terasa kini sudah sampai di depan rumah. “Udah sampai dek,” ujar supir taksi tadi. “Oh ya pak, ini uangnya,” ujarku sambil mengeluarkan uang lima puluh ribuan di dalam tas kecilku. “Makasih Pak,” ujarku sambil membuka pintu taksi dan berjalan menuju pagar rumah. Aku menekan bel pintu rumah.
Seorang perempuan paruh baya tergopoh-gopoh membukakan pintu pagar, “Non, dari mana saja?” tanya Bibi yang mengurus rumah dan sekaligus menjagaku kalau kedua orangtuaku sedang melakukan bisnis di luar negeri. “Dari jalan-jalan aja Bi,” ujarku kepada Bi Nina. “Yaudah bi, saya ke kamar dulu, mau bersih-bersih dulu,” ujarku. “Iya non, soalnya Non bau kecut, hehehe..,” ujar Bi Nina dengan guyonan[1] khasnya. “Ah Bi Nina, Tapi saya bau-bau gini tetep cantik kan, hehe,” ujarku sambil membalas guyonan Bi Nina. Yaudah Bi, saya ke kamar dulu ya,” ujarku.
Aku memasuki rumah menuju tangga. Tetapi ketika melewati ruang keluarga, ada seseorang yang selama ini kurindukan tengah duduk di sofa dan membaca majalah. “Joey,” ujarku kegirangan, aku segera duduk di sampingnya. “Hello, my sweety. Apa kabar nih,” ujar Joey sambil mengacak-acak rambutku. Aku segera menepis tangannya karena telah mengacak-acak rambutku. Joey adalah kakak kandungku yang tengah menempuh kuliah di Aussie dan mengambil Jurusan Kedokteran. “Lu jahat, balik ke Indo gak bilang-bilang,” ujarku kesal.
“Lu jelek kalau cemberut gitu dek, kakaknya pulang kok malah cemberut,” ujar Joey. “Lagian sih, lu gak bilang-bilang Joey, gue kan bisa jemput lu di Bandara,” ujarku setengah kesal. “Iya-iya, ma’af,” ujar Joey sambil mencium pipiku. “Ish, apa-apaan sih Joey, gue udah besar,” kataku sambil mengusap-usap pipiku. “By the way, lu dari mana aja sih kok bau asem gini,” ujar Joey. “Gue habis jalan-jalan,” ujarku. “Udah sana mandi dulu, bau tau,” ujar Joey.
“Walaupun bau gue tetep cantik tau,” ujarku berlari ke tangga menuju kamarku. “Iye-iye dari pada lu marah lagi,” ujar Joey setengah berteriak.
Iqbaal
Setelah sampai di rumahnya, Iqbaal langsung menuju kamarnya. Ia segera mengambil HP Blackberry di meja belajarnya. “Yes, gue dapet nomer pin BBnya,” ujar Iqbaal bersorak-ria. Dia lalu mengetikkan nomer pin BB Clara. “Semoga aja di Accept,” ujar Iqbaal berharap. Ping. Suara Hp Iqbaal berbunyi. “Yes, di accept,” ujar Iqbaal bersorak seperti memenangkan pertandiangan Sepak Bola. “Ping,” ketik Iqbaal. “Iya, ada apa?” ketik Clara. Iqbaal segera menjawabnya “Lagi apa?” tanya Iqbaal lagi. “Lagi nonton tv,” ketik Clara. “Udah dulu ya, bye.” Ujar Clara lagi. “Loh, kok dia off sih,” ujar Iqbaal.
Clara
Ping, suara hp Clara berbunyi. Joey lalu mengambil hp adikknya yang berada di tas di sebelahnya tersebut. Joey melihat isi hp adikknya. “Iqbaal, siapa itu?” ujar Joey. “Hmm.. ini permintaan pertemanan, gue confirm aja deh,” ujar Joey lagi. “Ping,” suara hp Clara berbunyi lagi. “Gue bales aja kali ya, hehehe”.  “Iya, ada apa?” ketik Joey di hp Clara. Ping. “Lagi apa?” tanya Iqbaal lagi. “Lagi nonton tv,” ketik Joey di hp Clara.
“Joey, lu lagi apa di bawah?” ujar Clara berteriak. “Nih, gue lagi nonton tv,” ujar Joey. Aku segera menuruni anak tangga menuju ruang keluarga. “Gue denger, hp gue tadi bunyi, deh” ujarku sambil mengambil hp di tas kecil milikku. Dan menotak-atik hpku.“Iya tadi bunyi tuh. Siapa Iqbaal, Ra?” tanya Joey. “Bukan siapa-siapa, emang lu tau Iqbaal dari mana Joey,” ujarku penasaran.
“Dia tadi ngeadd lu di BBM tuh, terus gue accept,” ujar Joey tak bersalah. “Kenapa harus lu accept Joey,” ujarku sedikit kesal. “Iya, sorry-sorry,” ujar Joey. “Yaudah, gue mau ke kamar dulu. Gue gak mood ngomong sama lu,” ujarku berlalu menuju kamar.
“Jangan marah dong, gue turutin deh, semua permintaan lu,” ujar Joey. “Oke, gue terima. Gue lagi pingin baju, sepatu, tas ama novel nih,” ujarku sambil terkikik. Biar tau rasa tuh Joey. “Eh buset, banyak amat permintaan lu ra,” ujar Joey setengah berteriak. “Ya, salah lu sendiri dan janji adalah hutang loh Joey, jadi harus ditepati,” ujarku mengingatkan Joey agar tidak merubah keputusannya itu. “Ya-ya, besok ke PIM yah, my sweety, inget jangan ngaret” ujar Joey. “Siap, bos,” ujar Clara sambil memasuki kamarnya.
Iqbaal
“PING!” ketik Iqbaal di BBnya yang dia arahkan untuk Clara. “Eh lu, ngapain ngechat?” ketik Clara di seberang sana. Kenapa dia jadi judes ya?, apa gara-gara masalah tadi. “Judes amat?” ketikku di BB. “Masalah?” ujar Clara. “Yaudah deh Good Night <3” ketikku di BB.
Gut Night cantik semoga mimpi indah ya disana. Entah mengapa ada yang berbeda di dalam diri Clara, dan Iqbaal menyukai itu, walaupun dengan pertemuan yang aneh -_-. Senyum yang mempesona dan mata yang indah. Iqbaal segera menarik selimut dan berharap dapat memimpikan Clara.
                                                      Clara
“Yaudah deh Good Night <3”  pesan dari Iqbaal masuk. Clara segera membaca isi BBM tersebut. Apa maksudnya? Pikiran itu terbesit di pikirannya. “Dia kan udah punya cewek ngapain ngasih tanda ini,” ujar Clara sedikit kesal. Clara segera menarik selimut, berharap dia tidak bangun kesiangan untuk pergi ke PIM bersama Joey.

[1] candaan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar