Kamis, 31 Oktober 2013

Yap2 yap..
Gue kembali nih. Ada yang kangen gak yah.? (Abaikan)

Gue mau ngepost nih Cowok-Cowok yang ganteng menurut gue

1. Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan      
                                                              














2. Lee Min Ho















3. Mario Maurer


















4. Kao Jirayu Laongmanee


















5. Kim Bum













6. Greyson Chance


















7. Stefan William


















8. Teuku Rizky Muhammad


















9. Bastian Bintang Simbolon














10. Alvaro Maldini Siregar














Hiyak2 ayo pilih yang mana nih guys????


Gue ngpost lagi nih..
            sekali-kali kritik napa.

Aku ingin menanyakan sesuatu pada anak tersebut, tetapi dia sudah meninggalkan jejak dari tempatnya. “Aduh, anak tadi juga udah pergi, padahal kan aku ingin bertanya sesuatu tentang lomba ini,” kataku sambil menunjuk ke kertas tersebut. Aku memutuskan untuk pergi ke gedung Gajahyana yang  letaknya tidak terlalu jauh dari taman ini.
Tak, kusangka aku bertemu anak yang menarik tanganku di gedung Gajahyana. “Kamu kan anak yang ada ditaman itu kan?”  tanya anak tersebut sambil menepuk pundakku. Refleks, aku pun memutar tubuhku dan berkata, “Iya. Memangnya, kenapa?” tanyaku. “Sorry ya, gue udah nabrak lo tadi,” ujarnya penuh arti. Baru pertama ini ada anak laki-laki yang mau minta ma’af atas perbuatan yang pernah dilakukannya kepadaku. “Oh ya, gue udah ma’afin lo kok,” ujarku. “Kenalin nama gue Iqbaal Ardian Pratama, panggil aja Iqbaal, nama lo siapa?” tanya Iqbaal sambil menganyunkan tangannya di udara.

Aku ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan anak ini, entah apa yang aku fikirkan, kemudian aku menjawab,  “Kepo banget sih lu!” ujarku judes.  Aku baru menyadari sesuatu, kenapa aku jadi begini di dekat anak ini? Kenapa biasanya didekat orang-orang di sekitarku, aku selalu bersikap ramah. Lalu kenapa dengan anak ini? Ujarku dalam hati.

Ok. Gue tunggu saran dan kritiknya..

Senin, 28 Oktober 2013

ini Cerpen yang kedua gue.. Aslinya sih banyak, tp gue malu (Abaikan)

Melihat awan-awan, itulah kebiasaan yang paling sering aku lakukan. Entah mengapa sejak kecil,  aku selalu tertarik dengan awan.  Kalau ditanya siapa idolaku pasti aku akan langsung berfikir bahwa awanlah idolaku, padahal awan hanyalah kumpulan titik-titik air hujan yang berada di angkasa.
Aku duduk di sebuah bangku di taman kota sambil melihat indahnya awan. Tiba-tiba ada seseorang yang berkata “Hei, ayo,” ujar seorang anak sambil menarik tanganku. Aku tersentak kaget dan menghadap kebelakang dan menoleh ke arah anak tersebut, “Siapa kamu?” tanyaku  heran sambil berjalan, mengapa ia menarik tanganku secara tiba-tiba. “Oh ma’af gue salah orang,” ujarnya. Tak berselang beberapa saat anak tersebut meninggalkanku di tengah jalan di taman. Kulihat sebuah kertas melayang ke arahku, kertas itu dari saku anak tersebut.

Kertas tersebut jatuh tepat di kakiku, aku pun segera mengambilnya. Kuperhatikan kertas tersebut. Kertas tersebut berisi tentang  pengadaan lomba fotografi di gedung Gajahmada. “Fotografi?” tanyaku. Aku sangat suka sekali fotografi, “Eh tunggu dulu tapi temanya apa ya?” kataku dalam hati. Aku membaca sekali lagi kertas tersebut, “Yah, temannya kok harus tema Bumi sih?” tanyaku dalam hati, sambil mendengus kesal.

Mau tau kelanjutannya? kalau gk mau ya udeh gpp.. Comment ya. terima kritik dan sarannya. Oke. Bye..
By the way.. Nama gue Mellinia Regina Heni Prastiwi. Gue biasa dipanggil Mellinia. Gue lahir di Malang, 20 January 2000 tepatnya di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Umur gue sih dibilang masih remaja, yapz umur gue 13 tahun dan mau menginjak ke 14 tahun (abaikan aja deh). Gue anak pertama dr 3 bersaudara *sumpeh abaikan yak*. Sekarang gue duduk di kelas 8 di SMP 3 Malang. Tau Malang gak? kalau gk coba tanya mbah google deh.. Ok. Sekia dari gue. Salam Kenal :D
yapz.. eh jgn alay lupa gue.. Kali ini gue mau nyampah  eh salah mau ngepost cerpen-cerpen gue.. Menurut gue sih jelek ya.. Hahaha jgn salah gue emang penulis yang belum berpengalaman -_- (Spa juga yang nanya?) Sebenernya sih ni cerpen tugas dr guru gue yang nyuruh bikin cerpen tiap hari. sapa juga yang nanyak yak..  Abaikan.. Let's read. Enyoying yak..

AKU SAYANG KAMU PAPA

                Bagaikan titik-titik air yang jatuh, membasahi daun-daun di taman, hingga berpuluh-puluh tahun. Seorang anak kecil dan berwajah cantik dan manis, kini berubah menjadi seorang anak remaja berumur 14 tahun, yang cantik dan  baik hati. Dia, bernama Shara Amalia. Yap.. Shara Amalia itu adalah namaku. Aku lahir dari keluarga yang berkecukupan. Ayahku bernama Andrea Hernanto, beliau adalah seorang penulis terkenal. Hampir semua tulisan beliau best seller. Dan, Ibuku bernama Dewi Amalia, beliau adalah seorang Guru. Aku dan kedua orangtuaku tinggal di Jakarta.
            “Pa-papa kita mau kemana?” tanyaku. “Kita, mau pindah keluar kota nak,” ujar Papa. “Kemana Pa?” tanyaku. “Ke kota Malang, nak,” kata Papa. “Tapi kan…” kata-kataku diputus begitu saja oleh Papa. “Sudah, ikuti saja kata-kata Papa, nak. Ini demi kebaikan kita semua,” ujar Papa. Aku pergi ke kamar, dengan cucuran air mata yang jatuh di pelupuk mataku karena aku tidak ingin meninggalkan kota kelahiranku sendiri dan aku tidak ingin meninggalkan sahabatku satu-satunya. Aku pun berebahan sambil merenungi apa yang telah terjadi. “Mungin benar, apa yang di katakan Papa, pasti Papa melakukan ini semua demi kebaikan kita semua.”  kataku dalam hati. Aku pun membuka laptopku dan segera mencari modem di tasku. Setelah, aku menemukan modem yang kucari, aku segera menancapkan modem itu di laptopku. Aku pun segera mengeklik  goole chrome yang berada di layar laptopku. Aku pun kemudian, mengetikkan google.com pada layar laptop. Setelah, google tampil di layar, aku kemudian mengetikkan kota Malang, kota yang tak pernah aku kenal. Kemudian sederetan data tentang kota Malang berada di layar laptop. Aku kemudian membaca semua artikel tentang kota Malang, mulai dari kebudayaannya, makanan khasnya, dan berbagai macam lainnya.
            Setelah membaca artikel-artikel tersebut, aku memutuskan untuk mengikuti semua permintaan Papa. Aku segera menghampiri Papa yang sedang merenung di teras rumah sambil melihat bulan. “Papa, sedang apa disini?” tanyaku. Papa pun kaget, “Bukannya, kamu tadi marah sama Papa?” tanya Papa sambil menggodaku. “Gak, siapa juga, yang marah,” kataku. “Terus, tadi nangis itu apa?”tanya Papa. “Udah, deh Pa, jangan dibahas lagi!” kataku mulai kesal. “Kita, ke kota Malang, dua hari lagi nak!” kata Papa. Aku seolah-olah tek percaya apa yang dikatakan Papa itu. “Terus, sekolahku, bagaimana Pa?” tanyaku. “Papa, sudah mendaftarkan kamu di SMP terbaik disana!” kata Papa. “Baiklah, kalau itu yang Papa inginkan, aku akan mengikuti keinginan Papa tersebut.” kataku penuh makna.
                                                            *******************
            Hari ini adalah hari terakhirku berada di Jakarta. Aku sedih meninggalkan tempat kelahiranku serta tempat sahabatku satu-satunya tinggal.
            “Rel, ma’afkan aku ya, aku harus pindah dari sini!” kataku pada sahabatku satu-sutunya itu. “Iya, selamat tinggal, ya Mel, baik-baik di sana,” kata sahabatku dari kecil tersebut. “Iya, aku akan selalu menghubungimu. Jadi jangan pernah lupakan, aku ya?” kataku pada Farrel. “Iya.” kata Farrel. Papa dan Mama telah lama menunggu di Mobil. “Ya, udah, ya Rel, aku pergi dulu. Aku pun segera lari menuju mobil. Aku membuka kaca mobil, dan melambaikan tangan ke Farrel. Dan Farrel pun membalas lambaian tanganku.
            Dua hari telah berlalu. Kini aku sampai di kota Malang. Pemandangan yang indah dan udara yang sejuk saat pimikiranku pertama, saat aku sampai di kota Malang. “Kota ini sangat jauh berbeda dari kota lamaku” kataku dalam hati.
            “Kita, sudah sampai, di rumah, sayang,” kata Mama dan Papa yang bersamaan. “
            “Beneran ini, Ma, Pa, ini rumah kita?” tanyaku
            “Iya, sayang. Bagaimana?” tanyaku
            “Bagus ma, besar juga.” kataku
            Dua hari kemudian. Hari ini adalah hari pertama kalinya aku masuk ke sekolah baruku. Saat pertama, aku memasuki sekolah tersebut. Banyak anak-anak yang menertawakanku karena penampilanku yang memakai kacamata kuda. “Memang apa salahnya jika aku memakai kacamata kuda?” tanyaku dalam hati. Aku kemudian pergi ke ruang kepala sekolah dan bertemu Pak Andika selaku kepala sekolah untuk melaporkan diri.
            Beberapa menit kemudian, bel berbunyi. Anak-anak memsuki ruang kelasnya masing-masing. Saat aku memasuki kelas 8.4, seluruh murid tertawa terbahak-bahak melihat aku yang memakai kacamata kuda.
            “Kenapa tertawa?” Bu Diah bertanya dengan sangat galak. Semua murid diam. Mereka takut Bu Dian marah. Karena kalau sudah marah, Bu Dian bisa mengomel sampai bel istirahat berbunyi. “Karena dia lucu bu. Masak hari gini, masih makai kacamata kuda.”  Kata salah satu murid.“Kalian tidak sopan. Memangnya kalian tidak pernah diajarkan kesopanan di sekolah ini?” tanya Bu Diah. “Ma’afkan saya Bu.”  Ujar anak tersebut. “Mel, ayo duduk disebelah Fandi!” ujar Bu Diah.
            Pelajaran pun dimulai. Setelah Bu Diah selesai menerangkan pelajaran. Bel istirahat pun berbunyi. Anak-anak dipersilahkan untuk meninggalkan kelas untuk menuju kantin. Aku pun segera menuju kantin. Dan setelah makan, bel masuk pun berbunyi. Pelajaran berikutnya pun dimulai, seorang guru yang persis denganku memakai kacamata kuda dan penampilannya seperti tokoh dalam film yaitu Betty Lavea. Beliau adalah guru matematika bernama Bu Betty. Walaupun penampilannya yang jadul, tetapi beliau sangat jenius. Setelah Bu Betty, menerangkan pelajaran. Bel pun berbunyi. Anak-anak dipersilahkan pulang, termasuk aku. Aku pun sms Mama, untuk segera menjemputku. “Ma, jemput aku ya, aku sudah pulang.” kataku dalam bentuk sms. Belum ada balasan sms dari Mama, aku putuskan, menunggu di gerbang saja.
                                                            *******************
            Aku melihat seorang yang aku kenal. Dia adalah murid yang mengejekku di kelas, dia bernama Laras. Laras berjalan menuju jalan besar. Tetapi Laras, tidak melihat kanan dan kiri jalan. Ada sebuah mobil yang akan melintas. Sontak, aku kaget, aku segera berlari untuk menyelamatkan, Laras. Aku segera mendorong Laras ke tepi jalan. Aku pun tergeletak bersimbah darah, tetapi ada satu kata yang aku katakan. Laras segera menghampiriku.
            “Kamu tidak apa-apa kan?” tanyaku pada Laras dengan mata tertutup. “Tidak, aku tidak apa-apa kok,” kata Laras. Aku pun pingsan di jalan tersebut. Aku pun segera membuka mataku secara perlahan-lahan. “Nak, kamu sudah sadar?” tanya Mama. “Iya, Ma, tapi kok gelap ya?”. Mama pun meneteskan air mata. Air mata tersebut jatuh tepat di tanganku. “Ma-mama nangis ya?” tanyaku. “Gak, sayang.” ujar Mama. “Mama, bohong. Ada apa Ma sebenarnya?” tanyaku heran. “Sebenarnya…” kata-kata Mama langsung aku putus. “Sebenarnya apa Ma?” tanyaku. “Sebenarnya kamu buta, karena kamu terbentur dan jatuh di jalan, nak.” kata Mama. “Nggak-nggak mungkin kan Ma?” tanyaku. “Ma’afkan Mama, nak tetapi itu benar.” kata Mama.
            “Assalamualaikum.” kata seseorang sambil mendorong pintu ruangan aku dirawat. “Wa’alaikumsalam,” kataku dan Mama. “Mel, ma’afkan aku, ya, ini semua gara-gara aku,” kata seseorang tersebut. “Kamu Laras?” tanyaku heran. Ya, aku baru sadar, aku tadi menyelamatkan Laras yang hampir tertabrak mobil. “Ma’afkan aku ya Mel.” katanya. “Iya, gak papa-papa, nasi sudah menjadi bubur, apa yang harus kita sesalkan?” kataku. “Ma’afkan aku, sekali lagi, ya,” kata Laras. “Iya, gak, papa kok Ras, aku ikhlas, menyelamatkanmu,” kataku. Mama yang mendengar hal tersebut merasa terharu. Karena anaknya yang manja sekarang bisa menjadi, anak yang telah dewasa dan bijaksana. “Mel, kamu mau gak jadi sahabatku?” tanya Tasya. “Iya, aku mau,” kataku.
            Papa yangpulang dari kerja, langsung menuju ke Rumah Sakit. “Nak, kamu tidak apa-apa kan?” kata Papa. “Gak, kok Pa, Amel, gak papa,” Kataku lembut. “Yang, tabah ya nak. Pasti dibalik kejadian ini, Allah merencanakan hal indah, untukkmu. “Iya, Pa, Amel tau,” kataku.
            Kini Laras, setiap hari, selalu pergi ke Rumah Sakit untuk mengajariku semua yang telah diajarkan di sekolah. Walaupun aku tidak bisa melihat, tetapi aku bisa mengerti apa yang diajarkan Laras.
                                                          *********************
            Daun-daun hijau yang dulu aku lihat, entah sekarang telah berubah menjadi warna apa. Hembusan angin membawa puluhan daun-daun menuju ke suatu tempat. Hari berganti hari. Dan tahun berganti tahun. Kini umurku telah 16 tahun. Sudah hampir 2 tahun ini, aku tidak melakukan aktivitas apapun selain berdiam diri di rumah menemani Papa yang sekarang sakit . Aku tidak pernah menulis novel lagi seperti Papa, dan kini sakit keras. Sekarang aku, tidak lagi memakai kacamata kuda. Kini, hanya Mama, yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Papa kini telah mencitakan sebuah novel yang berjudul “Malang  kota Paris van Java”. Sayang, aku tidak bisa membaca tulisan Papa tersebut. “Mama pulang,” kudengar suara Mama dari kejauhan. Ku, dengar suara mama berteriak, “Papa… Papa… Papa..” ujar Mama. Aku pun segera meraba dinding untuk menuju kamar Papa. “Ada, apa Ma?” tanyaku. “Papa, nak, Papa telah tiada,” kata Mama. “Apa, itu tidak benar, kan, Ma?” tanyaku. “Papa memberikan dua permintaan terakhir untuk kita, sayang.” ujar Mama menarikku secara perlahan untuk menuju tempat tidur Mama dan Papa. Dan, Mama menyuruhku duduk di dekat jenasah Papa yang telah tiada. Tetapi aku yakin, bahwa Papa, masih didekatku dan Mama. “Apa, itu Ma?” tanyaku. “Papa ingin mendonorkan matanya untuk kamu sayang dan Papa ingin novelnya diterbitkan. “Tapi Ma, kasihan Papa,” ujarku. “Kasihan, kenapa sayang?” tanya Mama. “Nanti, Papa di surga, gak bisa lihat kita lagi. Aku gak mau itu terjadi Ma.” ujarku. “Udahlah sayang, ini demi Papa sayang,” ujar Mama.
            Pukul tujuh malam. Aku ditemani Mama dan Laras untuk menuju ke Rumah Sakit untuk melakukan pencakokan mata. Setelah selesai operasi pencakokan mata, dokter membawaku ke sebuah ruangan. Aku ditemani Mama dan Laras untuk menuju ruang tersebut. Dokter menyuruhku, untuk membuka mata perlahan-lahan. “Ayo, Mel, buka mata kamu perlahan-lahan.” Kata Doktel tersebut. “Baik, dok,” kataku. Aku pun bisa melihat samar-samar wajah Mama yang takkan mungkin aku lupakan. Dan kini, aku juga bisa melihat wajah Mama dan Laras, secara jelas.
            “Mama, aku senang, bisa melihat wajah Mama, lagi,” kataku. “Iya sayang,” ujar Mama. Aku pun menoleh di sebelah kananku ada sahabatku. “Hi, laras. Gimana kabarmu selama ini?” ujarku pada Laras.”Baik, Mel”. Aku pun di suruh untuk istirahat dulu di Rumah Sakit selama beberapa hari. Kini aku sudah benar-benar pulih. Kini adalah, hari dimana Papa dimakamkan. Aku dan Mama menuju tempat pemakaman Papa dengan rasa sedih yang sangat mendalam, kerena ditinggal pergi oleh seseorang yang kita cintai.”Pa, ma’afkan Amel ya, kalau selama ini Amel mempunyai salah sama Papa. Ma’af juga Amel gak bisa lihat Papa, untuk terakhir kalinya. Amel janji Pa, Amel akan mengikuti, apa yang Papa inginkan.

            Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kini novel karangan Papa yang terakhir kalinya menjadi novel terbaik yang pernah di cetak dan menjadi novel best seller. “Pa, kini novelmu dikenal banyak orang”. Dan, sekarang ada seseorang yang mau menjadikan novel Papa menjadi sebuah film. Papa semoga, aku bisa mengikuti jejakmu sebagai penulis hebat, sepertimu Pa, semoga dengan mata Papa ini, aku bisa menulis sebuah novel tentang engkau Papa. I love you Dad. Semoga Papa senantiasa dilindungi oleh Allah Swt dan segala dosa Papa diampuni oleh Allah.

Wait..
ditunggu komennya ya.?
Gue emang blum berpengalaman. Jd ma'afin gue yak kalau cerpennya jelek..