yapz.. eh jgn alay lupa gue.. Kali ini gue mau
nyampah eh salah mau ngepost cerpen-cerpen gue.. Menurut gue sih jelek ya.. Hahaha jgn salah gue emang penulis yang belum berpengalaman -_- (Spa juga yang nanya?)
Sebenernya sih ni cerpen tugas dr guru gue yang nyuruh bikin cerpen tiap hari. sapa juga yang nanyak yak.. Abaikan.. Let's read. Enyoying yak..
AKU SAYANG KAMU PAPA
Bagaikan
titik-titik air yang jatuh, membasahi daun-daun di taman, hingga berpuluh-puluh
tahun. Seorang anak kecil dan berwajah cantik dan manis, kini berubah menjadi
seorang anak remaja berumur 14 tahun, yang cantik dan baik hati. Dia, bernama Shara Amalia. Yap.. Shara
Amalia itu adalah namaku. Aku lahir dari keluarga yang berkecukupan. Ayahku
bernama Andrea Hernanto, beliau adalah seorang penulis terkenal. Hampir semua
tulisan beliau best seller. Dan, Ibuku bernama Dewi Amalia, beliau adalah seorang
Guru. Aku dan kedua orangtuaku tinggal di Jakarta.
“Pa-papa kita mau kemana?” tanyaku.
“Kita, mau pindah keluar kota nak,” ujar Papa. “Kemana Pa?” tanyaku. “Ke kota
Malang, nak,” kata Papa. “Tapi kan…” kata-kataku diputus begitu saja oleh Papa.
“Sudah, ikuti saja kata-kata Papa, nak. Ini demi kebaikan kita semua,” ujar
Papa. Aku pergi ke kamar, dengan cucuran air mata yang jatuh di pelupuk mataku
karena aku tidak ingin meninggalkan kota kelahiranku sendiri dan aku tidak
ingin meninggalkan sahabatku satu-satunya. Aku pun berebahan sambil merenungi
apa yang telah terjadi. “Mungin benar,
apa yang di katakan Papa, pasti Papa melakukan ini semua demi kebaikan kita
semua.” kataku dalam hati. Aku pun
membuka laptopku dan segera mencari modem di tasku. Setelah, aku menemukan
modem yang kucari, aku segera menancapkan modem itu di laptopku. Aku pun segera
mengeklik goole chrome yang berada di
layar laptopku. Aku pun kemudian, mengetikkan google.com pada layar laptop.
Setelah, google tampil di layar, aku kemudian mengetikkan kota Malang, kota
yang tak pernah aku kenal. Kemudian sederetan data tentang kota Malang berada
di layar laptop. Aku kemudian membaca semua artikel tentang kota Malang, mulai
dari kebudayaannya, makanan khasnya, dan berbagai macam lainnya.
Setelah membaca artikel-artikel
tersebut, aku memutuskan untuk mengikuti semua permintaan Papa. Aku segera
menghampiri Papa yang sedang merenung di teras rumah sambil melihat bulan.
“Papa, sedang apa disini?” tanyaku. Papa pun kaget, “Bukannya, kamu tadi marah
sama Papa?” tanya Papa sambil menggodaku. “Gak, siapa juga, yang marah,”
kataku. “Terus, tadi nangis itu apa?”tanya Papa. “Udah, deh Pa, jangan dibahas
lagi!” kataku mulai kesal. “Kita, ke kota Malang, dua hari lagi nak!” kata Papa.
Aku seolah-olah tek percaya apa yang dikatakan Papa itu. “Terus, sekolahku,
bagaimana Pa?” tanyaku. “Papa, sudah mendaftarkan kamu di SMP terbaik disana!”
kata Papa. “Baiklah, kalau itu yang Papa inginkan, aku akan mengikuti keinginan
Papa tersebut.” kataku penuh makna.
*******************
Hari ini adalah hari terakhirku
berada di Jakarta. Aku sedih meninggalkan tempat kelahiranku serta tempat
sahabatku satu-satunya tinggal.
“Rel, ma’afkan aku ya, aku harus
pindah dari sini!” kataku pada sahabatku satu-sutunya itu. “Iya, selamat
tinggal, ya Mel, baik-baik di sana,” kata sahabatku dari kecil tersebut. “Iya,
aku akan selalu menghubungimu. Jadi jangan pernah lupakan, aku ya?” kataku pada
Farrel. “Iya.” kata Farrel. Papa dan Mama telah lama menunggu di Mobil. “Ya,
udah, ya Rel, aku pergi dulu. Aku pun segera lari menuju mobil. Aku membuka
kaca mobil, dan melambaikan tangan ke Farrel. Dan Farrel pun membalas lambaian
tanganku.
Dua hari telah berlalu. Kini aku
sampai di kota Malang. Pemandangan yang indah dan udara yang sejuk saat pimikiranku
pertama, saat aku sampai di kota Malang. “Kota ini sangat jauh berbeda dari
kota lamaku” kataku dalam hati.
“Kita, sudah sampai, di rumah,
sayang,” kata Mama dan Papa yang bersamaan. “
“Beneran ini, Ma, Pa, ini rumah
kita?” tanyaku
“Iya, sayang. Bagaimana?” tanyaku
“Bagus ma, besar juga.” kataku
Dua hari kemudian. Hari ini adalah hari
pertama kalinya aku masuk ke sekolah baruku. Saat pertama, aku memasuki sekolah
tersebut. Banyak anak-anak yang menertawakanku karena penampilanku yang memakai
kacamata kuda. “Memang apa salahnya jika aku memakai kacamata kuda?” tanyaku
dalam hati. Aku kemudian pergi ke ruang kepala sekolah dan bertemu Pak Andika
selaku kepala sekolah untuk melaporkan diri.
Beberapa menit kemudian, bel
berbunyi. Anak-anak memsuki ruang kelasnya masing-masing. Saat aku memasuki
kelas 8.4, seluruh murid tertawa terbahak-bahak melihat aku yang memakai
kacamata kuda.
“Kenapa tertawa?” Bu Diah bertanya
dengan sangat galak. Semua murid diam. Mereka takut Bu Dian marah. Karena kalau
sudah marah, Bu Dian bisa mengomel sampai bel istirahat berbunyi. “Karena dia
lucu bu. Masak hari gini, masih makai kacamata kuda.” Kata salah satu murid.“Kalian tidak sopan.
Memangnya kalian tidak pernah diajarkan kesopanan di sekolah ini?” tanya Bu
Diah. “Ma’afkan saya Bu.” Ujar anak
tersebut. “Mel, ayo duduk disebelah Fandi!” ujar Bu Diah.
Pelajaran pun dimulai. Setelah Bu
Diah selesai menerangkan pelajaran. Bel istirahat pun berbunyi. Anak-anak
dipersilahkan untuk meninggalkan kelas untuk menuju kantin. Aku pun segera
menuju kantin. Dan setelah makan, bel masuk pun berbunyi. Pelajaran berikutnya
pun dimulai, seorang guru yang persis denganku memakai kacamata kuda dan
penampilannya seperti tokoh dalam film yaitu Betty Lavea. Beliau adalah guru matematika bernama Bu Betty.
Walaupun penampilannya yang jadul,
tetapi beliau sangat jenius. Setelah Bu Betty, menerangkan pelajaran. Bel pun
berbunyi. Anak-anak dipersilahkan pulang, termasuk aku. Aku pun sms Mama, untuk
segera menjemputku. “Ma, jemput aku ya, aku sudah pulang.” kataku dalam bentuk
sms. Belum ada balasan sms dari Mama, aku putuskan, menunggu di gerbang saja.
*******************
Aku melihat seorang yang aku kenal.
Dia adalah murid yang mengejekku di kelas, dia bernama Laras. Laras berjalan
menuju jalan besar. Tetapi Laras, tidak melihat kanan dan kiri jalan. Ada
sebuah mobil yang akan melintas. Sontak, aku kaget, aku segera berlari untuk
menyelamatkan, Laras. Aku segera mendorong Laras ke tepi jalan. Aku pun
tergeletak bersimbah darah, tetapi ada satu kata yang aku katakan. Laras segera
menghampiriku.
“Kamu tidak apa-apa kan?” tanyaku
pada Laras dengan mata tertutup. “Tidak, aku tidak apa-apa kok,” kata Laras.
Aku pun pingsan di jalan tersebut. Aku pun segera membuka mataku secara
perlahan-lahan. “Nak, kamu sudah sadar?” tanya Mama. “Iya, Ma, tapi kok gelap
ya?”. Mama pun meneteskan air mata. Air mata tersebut jatuh tepat di tanganku.
“Ma-mama nangis ya?” tanyaku. “Gak, sayang.” ujar Mama. “Mama, bohong. Ada apa
Ma sebenarnya?” tanyaku heran. “Sebenarnya…” kata-kata Mama langsung aku putus.
“Sebenarnya apa Ma?” tanyaku. “Sebenarnya kamu buta, karena kamu terbentur dan
jatuh di jalan, nak.” kata Mama. “Nggak-nggak mungkin kan Ma?” tanyaku.
“Ma’afkan Mama, nak tetapi itu benar.” kata Mama.
“Assalamualaikum.” kata seseorang
sambil mendorong pintu ruangan aku dirawat. “Wa’alaikumsalam,” kataku dan Mama.
“Mel, ma’afkan aku, ya, ini semua gara-gara aku,” kata seseorang tersebut.
“Kamu Laras?” tanyaku heran. Ya, aku baru sadar, aku tadi menyelamatkan Laras
yang hampir tertabrak mobil. “Ma’afkan aku ya Mel.” katanya. “Iya, gak
papa-papa, nasi sudah menjadi bubur, apa yang harus kita sesalkan?” kataku.
“Ma’afkan aku, sekali lagi, ya,” kata Laras. “Iya, gak, papa kok Ras, aku
ikhlas, menyelamatkanmu,” kataku. Mama yang mendengar hal tersebut merasa
terharu. Karena anaknya yang manja sekarang bisa menjadi, anak yang telah
dewasa dan bijaksana. “Mel, kamu mau gak jadi sahabatku?” tanya Tasya. “Iya,
aku mau,” kataku.
Papa yangpulang dari kerja, langsung
menuju ke Rumah Sakit. “Nak, kamu tidak apa-apa kan?” kata Papa. “Gak, kok Pa,
Amel, gak papa,” Kataku lembut. “Yang, tabah ya nak. Pasti dibalik kejadian
ini, Allah merencanakan hal indah, untukkmu. “Iya, Pa, Amel tau,” kataku.
Kini Laras, setiap hari, selalu
pergi ke Rumah Sakit untuk mengajariku semua yang telah diajarkan di sekolah.
Walaupun aku tidak bisa melihat, tetapi aku bisa mengerti apa yang diajarkan
Laras.
*********************
Daun-daun hijau yang dulu aku lihat,
entah sekarang telah berubah menjadi warna apa. Hembusan angin membawa puluhan
daun-daun menuju ke suatu tempat. Hari berganti hari. Dan tahun berganti tahun.
Kini umurku telah 16 tahun. Sudah hampir 2 tahun ini, aku tidak melakukan
aktivitas apapun selain berdiam diri di rumah menemani Papa yang sekarang sakit
. Aku tidak pernah menulis novel lagi seperti Papa, dan kini sakit keras.
Sekarang aku, tidak lagi memakai kacamata kuda. Kini, hanya Mama, yang bekerja
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Papa kini telah mencitakan sebuah
novel yang berjudul “Malang kota Paris van Java”. Sayang, aku tidak
bisa membaca tulisan Papa tersebut. “Mama pulang,” kudengar suara Mama dari
kejauhan. Ku, dengar suara mama berteriak, “Papa… Papa… Papa..” ujar Mama. Aku
pun segera meraba dinding untuk menuju kamar Papa. “Ada, apa Ma?” tanyaku.
“Papa, nak, Papa telah tiada,” kata Mama. “Apa, itu tidak benar, kan, Ma?”
tanyaku. “Papa memberikan dua permintaan terakhir untuk kita, sayang.” ujar
Mama menarikku secara perlahan untuk menuju tempat tidur Mama dan Papa. Dan,
Mama menyuruhku duduk di dekat jenasah Papa yang telah tiada. Tetapi aku yakin,
bahwa Papa, masih didekatku dan Mama. “Apa, itu Ma?” tanyaku. “Papa ingin
mendonorkan matanya untuk kamu sayang dan Papa ingin novelnya diterbitkan.
“Tapi Ma, kasihan Papa,” ujarku. “Kasihan, kenapa sayang?” tanya Mama. “Nanti,
Papa di surga, gak bisa lihat kita lagi. Aku gak mau itu terjadi Ma.” ujarku. “Udahlah
sayang, ini demi Papa sayang,” ujar Mama.
Pukul tujuh malam. Aku ditemani Mama
dan Laras untuk menuju ke Rumah Sakit untuk melakukan pencakokan mata. Setelah
selesai operasi pencakokan mata, dokter membawaku ke sebuah ruangan. Aku
ditemani Mama dan Laras untuk menuju ruang tersebut. Dokter menyuruhku, untuk
membuka mata perlahan-lahan. “Ayo, Mel, buka mata kamu perlahan-lahan.” Kata
Doktel tersebut. “Baik, dok,” kataku. Aku pun bisa melihat samar-samar wajah
Mama yang takkan mungkin aku lupakan. Dan kini, aku juga bisa melihat wajah
Mama dan Laras, secara jelas.
“Mama, aku senang, bisa melihat
wajah Mama, lagi,” kataku. “Iya sayang,” ujar Mama. Aku pun menoleh di sebelah
kananku ada sahabatku. “Hi, laras. Gimana kabarmu selama ini?” ujarku pada
Laras.”Baik, Mel”. Aku pun di suruh untuk istirahat dulu di Rumah Sakit selama
beberapa hari. Kini aku sudah benar-benar pulih. Kini adalah, hari dimana Papa
dimakamkan. Aku dan Mama menuju tempat pemakaman Papa dengan rasa sedih yang
sangat mendalam, kerena ditinggal pergi oleh seseorang yang kita cintai.”Pa,
ma’afkan Amel ya, kalau selama ini Amel mempunyai salah sama Papa. Ma’af juga
Amel gak bisa lihat Papa, untuk terakhir kalinya. Amel janji Pa, Amel akan
mengikuti, apa yang Papa inginkan.
Hari berganti hari, bulan berganti
bulan. Kini novel karangan Papa yang terakhir kalinya menjadi novel terbaik
yang pernah di cetak dan menjadi novel best seller. “Pa, kini novelmu dikenal banyak orang”. Dan, sekarang ada seseorang
yang mau menjadikan novel Papa menjadi sebuah film. Papa semoga, aku bisa mengikuti
jejakmu sebagai penulis hebat, sepertimu Pa, semoga dengan mata Papa ini, aku
bisa menulis sebuah novel tentang engkau Papa. I love you Dad. Semoga Papa senantiasa dilindungi oleh Allah Swt
dan segala dosa Papa diampuni oleh Allah.
Wait..
ditunggu komennya ya.?
Gue emang blum berpengalaman. Jd ma'afin gue yak kalau cerpennya jelek..